Selasa, 14 Juli 2009

Dua Syarat Hidup Tenang

Oleh Yodi Indrayadi

''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih'.'' (QS Fushshilat [41]: 30).

Mungkinkah kita bisa benar-benar hidup tenang, sedangkan impitan ekonomi dan beban hidup terasa begitu berat? Jawabannya, ''Ya.'' Kita bisa hidup tenang, tanpa perlu merasa takut dan sedih, hanya dengan menjalankan dua syarat.Pertama, percaya kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Kedua, istiqamah dalam kebaikan. Demikianlah yang dijanjikan Allah SWT di dalam surat di atas.

Di dalam tafsirnya, Imam ar-Razi menjelaskan, ketenangan jiwa hanya bisa diraih dengan kebenaran hakiki dan amal saleh. Puncak kebenaran hakiki adalah mengenal Allah SWT. Sementara puncak amal saleh adalah istiqamah.Mengenal Allah SWT berarti mengetahui dan meyakini betul segala sifat dan nama baik (asmaul husna) yang dimiliki-Nya. Dengan demikian, seseorang tak akan lagi merasa khawatir dalam menghadapi hidup ini.

Sebab, ada Allah Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang Maha Pemurah, yang telah menjamin makanan dan keamanannya. Dalam konteks ini berlaku prinsip pantulan bola, yaitu semakin keras bola dilemparkan, semakin keras pula bola itu memantul. Artinya, semakin besar keyakinan dan kepercayaan kita terhadap Kemahakuasaan dan Kemahamurahan Allah SWT, semakin besar pula kasih sayang dan kemurahan Allah SWT kepada kita.

Ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam hadis qudsi, ''Sesungguhnya Aku tergantung sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.'' (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Setelah mengenal Allah SWT, yang dituntut kemudian adalah istiqamah. Imam ar-Razi menyebutkan, yang dimaksud istiqamah di sini adalah konsistensi melakukan amal saleh, baik itu di saat lapang maupun sulit.

Sebab, amal saleh tidak bergantung pada situasi atau kondisi tertentu. Kapan dan di manapun, seorang Muslim yang berharap ridha Allah SWT pasti akan melakukan amal saleh. Rasulullah SAW menegaskan, ''Amal saleh yang paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan terus-menerus sekalipun itu sedikit.'' (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dll).

Bila seorang Muslim percaya kepada Allah SWT dengan sepenuh hati dan istiqamah dalam kebaikan, niscaya Allah SWT akan memberinya kehidupan tenang, berupa malaikat-malaikat yang turun membisikkan ke dalam hatinya kalimat penyemangat, ''Jangan khawatir dan bersedih hati. Sebab, akan banyak keajaiban yang pasti menghampiri.''


Baca selanjutnya...

Senin, 13 Juli 2009

Belajar Mengukur Diri

Oleh Taufik Damas

Memilih sikap diam ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Status sosial, jabatan, dan gelar adalah bagian dari faktor yang menyebabkan orang sulit memilih diam.

Komentar tentu dibutuhkan dari orang yang menguasai masalah. Akurasi komentar sangat membantu menyelesaikan masalah. Selain akurasi, komentar harus didorong oleh semangat mencari jalan keluar yang tepat dan benar.
Tidak semua orang layak berkomentar dan tak ada orang yang memiliki kemampuan mengomentari semua masalah. Dibutuhkan kerendahan hati agar tak mengomentari sesuatu yang tidak dipahami secara pasti.

''Dan, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan, dan hati akan diminta pertanggungjawaban semuanya.'' (QS Al-Israa' [17]: 36).


Penglihatan dan pendengaran adalah pintu masuk ilmu pengetahuan. Dengan dua indra ini, manusia mampu memahami apa yang bergerak di sekitarnya.
Namun, untuk mengomentari masalah tertentu, manusia dituntut menggunakan hati (nurani) yang cenderung pada kejujuran. Tanpa bimbingan hati, kebenaran yang ditangkap oleh penglihatan dan pendengaran bisa jadi dibelokkan.

Melalui ayat di atas, secara eksplisit, Allah SWT menuntut manusia untuk tidak memberikan komentar terhadap sesuatu yang tak dipahami pasti. Ada implikasi negatif jika komentar hanya didasari dorongan nafsu.

Kehidupan akan semakin kacau karena komentar tak didasari sinaran ilmu pengetahuan dan hati nurani. ''Jika satu masalah diserahkan kepada orang yang tidak memiliki kompetensi, tunggu saat kehancurannya.'' (HR Bukhari).

Banyak orang yang tak menyadari bahwa dirinya tidak layak memberikan komentar untuk masalah tertentu. Perasaan gengsi dan ingin tampak menonjol menjadi faktor penyebabnya.

Ironisnya, fenomena seperti ini juga merambah ke dalam wilayah agama. Akibatnya, sebagai pelita kehidupan, kadang agama justru membuat masyarakat bimbang dan kebingungan karena disampaikan oleh mereka yang tak menguasai ilmu agama.

Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Akan datang tahun-tahun penuh penipuan pada manusia: pembohong dianggap benar dan orang benar dianggap pembohong; orang setia dianggap pengkhianat dan pengkhianat dianggap orang setia. Pada saat itu, akan ada banyak ruwaybidhah.''

Para sahabat bertanya, ''Apa yang dimaksud ruwaybidhah, wahai Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Orang pandir yang banyak bicara soal urusan masyarakat.'' (HR Ibnu Majah).

Baca selanjutnya...

Sabtu, 11 Juli 2009

Optimisme di Pagi Hari

Oleh Fajar Kurnianto

Rasulullah SAW bersabda, ''Tiada suatu hari bagi para hamba yang bangun pagi-pagi kecuali dua malaikat akan turun. Salah satu dari malaikat itu berkata, 'Ya Allah, berikanlah kepada orang yang bersedekah dengan pahalanya.' Malaikat yang kedua berkata, 'Ya Allah, berikanlah kerusakan pada orang yang kikir'.'' (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Hari terus berganti, roda kehidupan tak henti menggelinding. Manusia sebagai bagian dari alam yang terus bergerak ini, hendaknya bisa memanfaatkan momentum untuk mendapatkan kebaikan, dari hari ke hari.

Pagi hari mengawali denyut aktivitas manusia yang berbeda-beda. Manusia keluar dari rumah, menyebar di muka bumi, mencari penghidupan, dan meninggalkan sejenak keluarga di rumah. Wajah-wajah segar setelah beristirahat semalam mengiringi langkah yang optimistis.

Pagi selalu hadir dan itu berarti optimisme untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang mungkin didapatkan di hari kemarin. Dan, memang demikianlah manusia; harus senantiasa optimistis, seoptimistis pagi yang selalu menyapa.

Mengawali hari dengan niat baik dan dengan aktivitas yang baik adalah karakter yang seharusnya dimiliki oleh orang Mukmin. Sehingga, hari demi hari, kebaikanlah yang ia dapatkan. Tidak hanya kebaikan yang sifatnya materi, tetapi juga nonmateri.

Momentum pergantian hari dengan demikian justru menjadikannya semakin mulia di mata Allah SWT dan terhormat di mata manusia. Hasil yang didapatkannya pun bermanfaat buat dirinya dan keluarga serta lingkungan sekitar.

Pada hadis di atas, Rasulullah SAW mengungkapkan ada dua malaikat yang setiap pagi mendoakan manusia. Satu mendoakan kebaikan dan satunya lagi mendoakan keburukan.

Manusia yang memulai hari dengan baik (digambarkan dengan orang yang bersedekah) akan didoakan kebaikan oleh malaikat. Sementara manusia yang memulai hari dengan buruk (digambarkan dengan orang kikir) akan didoakan keburukan oleh malaikat lainnya.

Namun kerap kali, aktivitas manusia yang begitu padat membuatnya lupa untuk berniat melakukan kebaikan di pagi hari. Akibatnya, yang dihasilkan di hari itu pun hanya keuntungan yang sifatnya materi, kalau tidak malah kerugian karena sudah berniat buruk.

Rasulullah SAW, melalui hadis itu, mengingatkan kita untuk selalu mengawali hari dengan kebaikan. Awal yang baik akan menghasilkan akhir yang baik pula.


Baca selanjutnya...

Jumat, 10 Juli 2009

Membantu Tanpa Pamrih

Oleh Anang Rikza Masyhadi

Perbuatan baik harus dilandasi keikhlasan, karena tanpa keikhlasan perbuatan itu akan sia-sia belaka. Allah SWT hanya akan melihat perbuatan hamba-Nya yang ikhlas, yaitu yang berbuat baik semata-mata untuk mendapat ridha-Nya.

Yang tahu kedalaman keikhlasan seseorang adalah dirinya sendiri dan Allah SWT, karena Dia Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi. Justru, orang yang menampak-nampakkan secara demonstratif keikhlasannya di muka umum, yang perlu dipertanyakan.

Apalagi dengan berulang kali mengucapkan kepada orang lain, ''Aku ikhlas kok'', itu indikasi bahwa sebetulnya dia sedang terganggu keikhlasannya. Ketika orang berbuat baik dan masih butuh pengakuan orang lain, keikhlasannya masih diragukan. Ikhlasnya karena ada motif.

Menampakkan perbuatan baik sebetulnya tidak dilarang, asal tujuannya untuk memotivasi dan supaya dicontoh orang lain. Jadi, meskipun menampakkan, hatinya tetap ikhlas. Hanya saja, menampakkan itu berpotensi mengganggu keikhlasan, maka hati dan mentalnya harus kuat betul.

Maka dari itu, Alquran menegaskan bahwa menyembunyikan tetap lebih baik. ''Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, menyembunyikan itu lebih baik bagimu. (QS Albaqarah [2]: 271).

Ikhlas itu lillahi ta'ala! Do it and forget it, kerjakan dan lupakan. Dalam hal berderma, ikhlas adalah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.

Setelah itu kita lupakan bahwa kita pernah memberikan sesuatu kepadanya. Jangan pernah berpikir atau punya perasaan bahwa Allah SWT atau malaikat akan lupa tidak mencatatnya. Keliru besar.

''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. (QS Albaqarah [2]: 264).

Menurut hadis Rasul SAW, ''Orang yang memamerkan perbuatan baiknya, maka pada hari kiamat Allah akan memamerkan kepada makhluk-Nya dengan mengejek dan mengecilkannya.'' (HR Ahmad).

Rasanya, negeri ini masih butuh orang-orang yang ikhlas. Jangan sampai terjadi orang memberikan bantuan untuk pamrih politik jangka pendek. Apalagi saling klaim jasa dan kebaikan yang pernah diperbuatnya untuk rakyat.

Berikanlah kepada rakyat yang terbaik, tanpa pamrih. Itulah ikhlas yang sesungguhnya. Rakyat butuh ketulusan, yaitu ketulusan para elite membantu meringankan kesulitan rakyat tanpa dikait-kaitkan dengan politik dan kekuasaan.


Baca selanjutnya...

Kamis, 09 Juli 2009

Makhluk Pelupa

Oleh Nawawi Efendi

Di antara kelemahan manusia adalah sifat lupa. Sifat ini melekat padanya, sehingga ada yang berpendapat bahwa kata 'insan' (manusia) berasal dari kata nasiya-yansa yang berarti lupa atau melupakan.

Allah SWT kerap menyebut sifat lupa dalam Alquran dan dikaitkan kepada manusia. ''Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.'' (QS Thaahaa [20]: 115).

Di satu sisi, lupa adalah sifat positif, ketika seseorang lupa terhadap masa lalu buruk yang pernah dialami, sehingga menghadapi hidup ini dengan optimistis. Atau, lupa akan kesalahan orang lain, sehingga tak ada keinginan membalas dendam.

Di sisi lain, lupa merupakan awal kebinasaan seseorang, ketika lupa kepada Allah SWT. Allah SWT pun membuatnya lupa terhadap hakikat dirinya sendiri. ''Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.'' (QS Alhasyr [59]: 19).

Seseorang yang sudah lupa terhadap hakikat dirinya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT, ia akan berlaku sombong ketika mendapat kesuksesan dan akan frustrasi bila ditimpa kegagalan.

Untuk itu, Allah SWT seringkali memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya. Zikir di sini tidak terbatas pada gerakan lisan semata, tapi juga kesadaran hati tentang kekuasaan Allah SWT dan keagungan-Nya.

Bahkan, secara khusus, Allah SWT menyebutkan, shalat adalah sarana paling tepat untuk berzikir kepada-Nya. ''Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.'' (QS Thaahaa [20]: 14).

Sebenarnya, melalui akal dan hatinya, manusia sudah bisa mengingat Allah SWT. Tapi, Allah SWT masih menurunkan kitab dan mengutus rasul-Nya sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Di hari kiamat nanti tidak ada alasan bagi seseorang mengelak dari hukum dan pengadilan Allah SWT.
Namun, bila manusia masih tetap lupa dan berpaling dari peringatan-Nya, ia akan merasakan kehidupan yang sempit, dan di akhirat akan dikumpulkan dalam keadaan buta.

''Berkatalah ia, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan'.'' (QS Thaahaa [20]: 125-126).

Semoga sifat lupa yang sudah menjadi tabiat kita dapat menjadi pemicu untuk berzikir kepada Allah SWT. Bukan malah menjadikannya tameng dan alasan melupakan-Nya.


Baca selanjutnya...

Rabu, 08 Juli 2009

Memimpin dengan Hati

Oleh Muhtadi Abdul Mun'im

Suatu pagi, Rasulullah SAW diberi semangkuk susu oleh tetangganya. Kemudian, beliau meminta Abu Hurairah memanggil para ahlus shuffah agar datang ke rumahnya untuk menikmati semangkuk susu yang diperolehnya itu.

Ahlus shuffah merupakan sekelompok orang miskin, tunawisma, dan belum mendapatkan pekerjaan. Satu per satu para ahlus shuffah dan Abu Hurairah mendapat giliran minum susu lebih awal dari Rasulullah SAW.
Setelah semua minum sepuasnya, baru kemudian beliau yang terakhir mendapat giliran menikmati susu tersebut. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui penuturan Abu Hurairah.

Bukan kali itu saja Rasulullah SAW menunjukkan kelembutan dan perhatiannya kepada rakyat miskin. Sekian banyak sabdanya mengajak kita untuk berbagi, bederma, dan melayani mereka yang membutuhkan.

''Berilah makan dan ucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan belum dikenal,'' merupakan sabdanya ketika ditanya tentang Islam yang baik (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Perkataan Rasulullah SAW membela kepentingan wong cilik bukanlah sekadar orasi politik meraih simpati publik. Lebih dari itu, Nabi SAW menjadikan dirinya teladan atas apa yang diucapkannya.

Sangat berbeda dengan orang-orang yang cuma pandai berkata-kata, tapi jauh dari realita. Sungguh tercela orang yang mencoba meraih simpati dengan kata-kata manis, padahal dia sama sekali tak pernah melakukannya. Sifat semacam itu amat dibenci Allah (QS Ashshaf [61]: 3).

Kesungguhan membela rakyat kecil dapat dilihat pada kisah Rasulullah SAW di atas. Di antara keberhasilan Rasulullah SAW sebagai pemimpin adalah karena ketulusan hatinya.

Setidaknya, ada tiga hal penting yang harus dicontoh: memiliki empati, sanggup melayani, menjadikan dirinya teladan. Inilah ciri-ciri utama dari sifat kepemimpinan dengan hati.

Rasa empati diperlihatkan dengan cara kemampuan seorang pemimpin melihat dan merasakan kesulitan rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian, hatinya akan terpanggil untuk senantiasa melayani mereka yang membutuhkan pertolongan dan melakukan berbagai upaya mengangkat mereka dari jurang keterpurukan.

Seorang pemimpin yang baik akan menjadikan dirinya teladan bagi siapa pun untuk melakukan hal yang sama, yaitu melayani kebutuhan rakyat. Sayyidul qaumi khadimuhum--pemimpin sejati adalah yang sanggup melayani rakyatnya.

Ini jauh berbeda dengan sifat pemimpin yang justru meminta untuk dilayani, menuntut berbagai fasilitas, dan selalu minta diistimewakan. Sungguh beruntung, jika bangsa ini dipimpin oleh orang-orang yang menggunakan hatinya.


Baca selanjutnya...

Senin, 06 Juli 2009

Perisai Sabar

Oleh Khalili Anwar

Perjuangan para Nabi adalah gerakan kesabaran, sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT dan sabar menghindari larangan-Nya. Sebelum diterpa cobaan, hatinya telah dibalut perisai sabar.Mereka menyiapkan perisai sabar terus-menerus. Ahmad bin Hanbal menuturkan, Alquran mengulang kata sabar sebanyak 90 kali.

Pengulangan kata sabar menandakan betapa pentingnya energi makna di balik kata sabar itu. Kapan momentum yang tepat mengenakan perisai sabar? Apakah kita mengenakan perisai sabar hanya ketika terimpit cobaan dan ujian?Jamak dipahami, perisai sabar dikenakan saat menghadapi cobaan atau ujian yang tak diinginkan. Andai orang tidak mengenakan perisai kesabaran, niscaya akan limbung, terjatuh pada sikap kecewa, sedih, menderita, berujung pada frustrasi.

Bagi orang yang mengenakan perisai sabar, niscaya akan jauh dari ancaman frustrasi. Karena frustrasi hanya patut mengena pada orang kafir. ''Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.'' (QS Yusuf [12]: 87).Orang bersabar niscaya akan terhindar dari putus asa, lantaran sabar adalah pintu awal yang dapat menyelamatkan manusia dari perasaan negatif. Rasulullah SAW bersabda, ''Kesabaran itu pada pukulan pertama.''

Jika respons pertama disertai kesabaran, sontak kebahagiaan senantiasa terus menyusupi hati. Kesabaran berperan menghadirkan ketenangan hati.Bersabar dalam kemiskinan. Bersabar dari cercaan dan makian. Bersabar dengan ujian yang menerpa silih berganti. Kesabaran seperti itu akan meneguhkan jiwa meraih kemuliaan.
Pun demikian, perisai sabar tak hanya dikenakan di saat terdepak musibah. Perisai sabar juga semestinya dikenakan ketika berada dalam kelapangan. Betapa banyak orang yang mampu bersabar dalam kesulitan, akan tetapi tak bisa bersabar dalam kelapangan.

Model pribadi yang bersabar dalam kejayaan dan bisa dicontoh adalah pada diri Nabi Sulaiman. Dikisahkan, walau Nabi Sulaiman termasuk sosok kaya raya yang kekuasaannya memenuhi seluruh kerajaan, dari manusia, binatang, dan golongan jin, namun makanan sehari-hari beliau tidak berasal dari gajinya.

Beliau makan dari hasil jerih payahnya membuat anyaman. Dari kebiasaan itu, tidak hanya rakyat dari kalangan manusia yang kagum pada perilaku sabarnya Nabi Sulaiman, burung-burung bahkan bangsa jin menaruh kagum padanya.Ternyata bersabar dalam kelapangan tidak mengurangi sedikit pun kehormatan beliau. Bahkan, semakin meninggikan derajatnya di hadapan Allah SWT.


Baca selanjutnya...