Oleh Ali Rif'an
''Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, seluruh tubuh menjadi baik. Tapi, bila rusak, semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu.'' (HR Al-Bukhari dari Nu'man ibn Basyir).
Kalbu merupakan materi organik (al'adhuw ai'mady) yang memiliki sistem kognisi (jibaz idraky ma'ripiy) dan mengandung emosi (al-syu'ur). Al-Ghazali mendefinisikan kalbu menjadi dua.
Pertama, kalbu jasmani, yaitu daging sanubari yang terletak di dada sebelah kiri atau disebut jantung (heart). Kedua, kalbu rohani, yaitu sesuatu yang bersifat halus (lathif), rabbani, dan ryhani.
Kalbu jasmani berfungsi mengatur peredaran darah serta segala perangkat tubuh manusia. Sementara, kalbu rohani berperan sebagai pemandu dan pengendali struktur jiwa (nafs). Bila kedua kalbu ini berfungsi normal dan baik, kehidupan manusia akan baik dan berjalan sesuai fitrahnya.
Lantas, bagaimana kecerdasan qalbiah itu bisa hadir? Kecerdasan qalbiah akan hadir tatkala seseorang berperilaku qalbiah, yaitu senantiasa merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap tindakan, kapan pun dan di mana pun. Perilaku qalbiah akan timbul manakala kita selalu mengingat Allah (zikrullah).
''Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.'' (QS Al-Ahzab [33]: 41).
Seseorang yang selalu mengingat-Nya, hatinya akan merasa tenang dan tenteram meski diimpit segala macam persoalan. ''(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.'' (QS Arra'd [13]: 28).
Orang yang senantiasa berzikir juga akan selalu diingat Allah SWT. ''Ingatlah kalian kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.'' (QS Albaqarah [2]: 150).
Bila seseorang telah diingat Allah SWT, hatinya akan bersih dan selalu dijaga dari perbuatan keji dan mungkar. Di sinilah, pengelolaan dan pemeliharaan kalbu dan perilaku qalbiah yang termanifestasi dalam bentuk zikir, akan membawa manusia pada kecerdasan qalbiah. Sehingga, dengan mudah menyerap segala bentuk kebenaran yang datang dari Allah SWT.
Kecerdasan qalbiah ini akan pula menjadi pengendali dan pemegang komando terhadap setiap perilaku manusia yang terdiri atas empat sifat. Seperti, sifat bahimiah (syahwat), sabu'iyyah (amarah), syaitiniyah (hasud, dengki, dan iri hati), dan rabbaniyah (unsur sifat Ilahi).
Baca selanjutnya...
Selasa, 09 Juni 2009
Kecerdasan Qalbiah
Senin, 08 Juni 2009
Berbuat Baik dan Terbaik
Oleh A Ilyas Ismail
Islam memiliki doktrin yang menyuruh kita agar berbuat baik dan terbaik, yakni ihsan. Kata 'ihsan' berakar dari kata ahsana, yuhsinu, ihsan , yang secara bahasa bermakna kebaikan yang diperoleh melalui ilmu dan amal.
Dalam konteks ini, Umar ibn al-Khathab pernah berkata, '' Al-Nas abna'u ma yuhsinun ,'' manusia adalah anak dari kebaikan yang dilakukan. Maksudnya, kita dinamakan manusia manakala kita mengerti kebaikan dan melakukannya dalam kehidupan.
Manusia harus berbuat baik dan terbaik setidak-tidaknya karena tiga alasan. Pertama, manusia adalah makhluk terbaik (QS Attiin [95]: 4) dan tertinggi dalam arti dilebihkan atas makhluk-makhluk yang lain (QS Al-Isra [17]: 70).
Kedua, manusia diperintahkan agar berbuat baik sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepada mereka (QS Alqashash [28]: 77). Ketiga, manusia disuruh berlomba-lomba dalam kebaikan ( fastabiq al-khirat ) dan menciptakan kompetisi untuk memastikan siapa yang terbaik di antara mereka. ''Dialah Allah, Tuhan yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.''(QS Almulk [67]:2).
Ihsan sebagai doktrin yang mengharuskan kita agar berbuat baik dan terbaik sejatinya mencakup tiga dimensi. Pertama, ihsan kepada Tuhan (vertikal). Ihsan dalam arti ini diwujudkan dengan melakukan ibadah kepada Allah SWT sebaik mungkin dan sesuai perintah Nabi, ''Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Sekiranya kamu tidak dapat melihat-Nya, sadarilah bahwa Allah pasti melihatmu.'' (HR Muslim).
Kedua, ihsan kepada sesama manusia (horizontal). Ihsan dalam arti ini, menurut pakar tafsir al-Ishfahani, bermakna al-in'am `ala al-ghair , yaitu berbagi kenikmatan atau kebaikan kepada orang lain mulai dari menyambung tali persaudaraan, silaturahim, memberikan maaf, hingga memperbanyak donasi (sedekah).
Ketiga, ihsan kepada diri sendiri (profesional). Hal ini mengharuskan kita untuk bekerja secara profesional dalam arti bekerja sebaik mungkin dan dengan kualitas tertinggi serta menghindarkan diri dari kebiasaan buruk, yaitu bekerja asal jadi atau sekenanya.
Adapun kinerja (performa) dengan kualitas ihsan itu dapat diupayakan melalui lima syarat, yaitu keyakinan ( belief ), pengetahuan ( knowledge ), keterampilan ( skill ), disiplin, dan amanah ( trust ).
Allah SWT sangat menghargai orang-orang yang mampu berbuat ihsan ( muhsinin ). Tidak kurang dari 15 kali dalam Alquran, Allah SWT menyatakan cinta-Nya kepada mereka. Semoga kita bisa berbuat baik dan terbaik.
Baca selanjutnya...
Jumat, 05 Juni 2009
Pidato Politik Calon Pemimpin
Oleh Taufik Damas
Dalam Tarikh al-Khulafa' , Imam Suyuthi mengungkap tiga model pidato politik dalam sejarah Islam. Pidato itu disampaikan tiga tokoh politik dalam rentang waktu berdekatan. Tapi, isi tiga pidato itu memiliki tekanan makna yang berbeda.
Pada tahun 20 H, Umar bin Khathab menyampaikan pidato politik di atas mimbar di Madinah. Ketika ia sedang berbicara, seorang Badui berteriak, ''Demi Allah. Jika kau melakukan penyimpangan, kami akan meluruskanmu dengan pedang!''
Mendengar ucapan orang Badui itu, Umar lantas mengucapkan kata-kata terkenal. ''Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan orang yang akan meluruskan Umar dalam masyarakat.''Pada tahun 45 H, Muawiyah menyampaikan pidato politik. Di tengah pidato, ada yang menyela, ''Demi Allah. Jika kau melakukan penyimpangan, kami akan meluruskanmu.''Muawiyah bertanya kepada orang itu, ''Dengan apa?''
Ia menjawab, ''Dengan kayu.''
'Kalau begitu, kami akan bersikap lurus,'' kata Muawiyah.Pada tahun 75 H, Abdul Malik bin Marwan menyampaikan pidato politik di Madinah. Abdul Malik berkata, ''Demi Allah. Jangan ada orang yang berani menasihatiku untuk bertakwa kepada Allah. Jika ada yang berani, aku akan memenggal lehernya!'' Kemudian ia turun dari mimbar.
Tiga model pidato politik ini mengandung semangat berbeda. Pidato Umar didasari ketulusan dan kejujuran. Ini terbukti gaya kepemimpinannya yang sangat adil dan bijaksana. Umar adalah sosok yang tegas dan berani, sehingga diberi gelar al-faruq (sang pembeda yang hak dan batil).
Sedangkan pidato Muawiyah hanya retorika. Tak ada ketulusan dalam pidato itu. Apa yang disampaikan tidak benar-benar akan dilakukan. Dialog antara Muawiyah dan orang yang menyela pidatonya hanya sandiwara. Memakai istilah politik saat ini, yang dilakukan Muawiyah hanya demokrasi prosedural.
Pidato politik ketiga memiliki ketegasan dan kejelasan yang sama dengan pidato pertama. Tapi, memiliki semangat yang sangat berbeda. Ketegasan pidato ketiga justru didorong otoritarianisme yang tidak menerima kritikan orang lain. Sekadar mengingatkan untuk bertakwa, orang diganjar dengan pedang.
Menjelang pemilu presiden, kita sering mendengar pidato politik melalui berbagai media massa. Kita berharap pidato politik yang disampaikan para politikus itu merujuk kepada kejujuran dan ketulusan Umar bin Khathab.''Ada tiga kelompok orang yang pasti masuk surga: penguasa yang adil, jujur, dan konsisten.'' (HR Muslim).
Dalam dinamika politik Indonesia saat ini, umat Muslim harus memiliki kecerdasan dan keberanian politik untuk mengontrol sikap para politikus. ''Jihad yang paling utama adalah berkata benar di hadapan penguasa yang lalim,'' begitu sabda Nabi SAW dalam Sunan Abu Dawud .
Baca selanjutnya...
Kamis, 04 Juni 2009
Bersabar
Oleh Fuad Hasan
Dalam kehidupan sehari-hari yang dibutuhkan manusia dalam menjalankan segala perintah, baik yang bersumber dari Allah SWT, manusia, atau dari diri kita sendiri, adalah perlu adanya sifat ridha atau ikhlas disertai sabar.
Sabar merupakan kunci kesuksesan, sehingga Muhammad Idris al-Junaidi berkata, ''Sabar merupakan jalan yang menunjukkan kelulusan.''Sabar tidak harus menunggu tanpa gerakan (no action ). Tetapi, sabar berarti suatu sikap betah atau dapat menahan diri pada kesulitan ( musykilat ) yang dihadapinya.Kendati begitu, tidak berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa upaya melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi.
Maka, tepatnya sabar adalah sikap yang diawali dengan ikhtiar, lalu diakhiri dengan ridha dan ikhlas. Jika kesabaran dibatasi, manusia tidak akan bisa untuk membatasinya. Semakin tinggi keimanan seseorang kepada Allah SWT, maka akan lebih tinggi pula sifat sabar mereka.Rasulullah SAW bersabda, ''Barang siapa yang bersabar, maka ia diberi kekuatan sabar oleh Allah SWT. Seseorang akan diberi kebaikan oleh Allah SWT dan kelapangan hidup karena ia telah bersabar.'' (HR Bukhari Muslim).
Dengan bersabar kehidupan kita akan selalu merasa tenteram, mempunyai cita-cita besar, yang menciptakan kembalinya semangat hidup dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia.Karena itu, sabar mengandung nilai suatu identitas baik sebagai kepribadian manusia. Sabar sangat tepat bila dikontekskan dengan semangat hidup.
Lebih tepatnya lagi, sabar dalam berusaha, bukan sabar hidup dalam penderitaan, keputusasaan, bukan pula dalam kebodohan. Namun, konteks sabar yang sesungguhnya adalah sabar dalam rangka belajar dengan sungguh-sungguh, sabar dalam berusaha (ikhtiar), sabar dalam melaksanakan tugas.
Jika kita telah terbiasa bersifat sabar, Allah SWT akan selalu menyertai dalam setiap gerak langkah kita, bahkan setiap embusan napas kita. Allah SWT berfirman ''Sesungguhnya Allah selalu menyertai arang-orang yang sabar.'' (QS Albaqarah [2]: 156). Sifat ini mampu menciptakan manusia selalu merasa dekat dengan Tuhannya. Oleh karenanya, segala perasaan atau perbuatan yang ada pada diri kita, senantiasa diawasi oleh Allah SWT.
Maka kesungguhan, etos kerja, semangat hidup, mengumpulkan harta untuk bersedekah, akan terasa ringan karena setiap gerak langkahnya selalu dilihat dan diridhai Allah SWT.
Baca selanjutnya...
Rabu, 03 Juni 2009
Mujahadah Plus
Oleh Imam Taufik Al Khatab
Dalam Islam, aktivitas kerja yang disertai kesungguh-sungguhan dikenal dengan istilah mujahadah . Sifat-sifat mujahadah ini mencakup setiap kinerja yang mengandalkan manajemen dan perangkat-perangkat pendukung lainnya.Namun seringkali, dalam mengusahakan sebuah cita-cita, kita menjadi terperangkap dalam rutinitas upaya dan kerja keras yang hampa akan tujuan hakiki. Kalaupun ditetapkan target dan tujuan, seringkali tidak ada hubungan sama sekali dengan sang pembuat cita-cita itu sendiri.
Inilah justru yang tak dikehendaki dalam Islam. Syarat keberhasilan lahir dan batin dalam Islam sejatinya bisa dirumuskan dari firman Allah SWT berikut, ''Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.'' (QS Al-Ankabut [29]: 69).Ayat ini tidak berbicara aktivitas jihad dalam konteks qital (berperang). Hal itu dikuatkan oleh Al-Imam As Syaukani bahwa ayat ini lebih menjelaskan aktivitas jihad dengan makna umum karena turun pada fase Makkiyah.
Dengan bahasa yang jelas dan tegas, ayat ini mensyaratkan terbukanya berbagai jalan keluar atau terbukanya jalan menuju tujuan bila mencakup dua hal. Pertama, dilakukan dengan kesungguhan. Kedua, aktivitas itu harus berada di jalan Allah SWT, dan dengan sendirinya mengharapkan ridha-Nya. (Fathul Qadhr, jilid IV, hal 266).
Segala aktivitas yang memiliki prasyarat tersebut, akan Allah SWT tunjukkan jalan-jalan menuju tujuan yang dikehendaki. Namun, disadari atau tidak, serigkali aktivitas kita hanya memenuhi syarat pertama, bahkan maksimalisasi usaha habis-habisan dikerahkan untuk porsi itu.Kita lengah dalam mengevaluasi, apakah aktivitas kita benar-benar memiliki visi dan misi yang bersifat Ilahiyah, ataukah hanya sekadar untuk urusan duniawi semata. Bahkan, sekecil apa pun urusan duniawi yang kita lakukan, sesungguhnya Islam tak pernah melepaskannya dengan nilai-nilai Ilahiyah.
Terlebih untuk sebuah kerja besar. Artinya, Islam sama sekali tidak mengenal dikotomi antara urusan duniawi dan ukhrawi. Islam mengajak kita untuk tidak hanya berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja, tetapi juga meniatkan diri bahwa aktivitas kita ini benar-benar berada di jalan Allah SWT dan untuk keridhaan-Nya.Bila faktanya ada manusia yang sukses tanpa disertai visi dan misi berbasis keilahiyahan, ketahuilah bahwa kesuksesan itu hanya fatamorgana semata. Di sisi Allah SWT, ia belum bernilai apa-apa.
Baca selanjutnya...
Selasa, 02 Juni 2009
Memperbarui Iman
Oleh Arif Rahman Hakim
Para ulama (dari generasi sahabat dan setelahnya) berkata, iman itu bertambah dan berkurang. Berangkat dari alasan teologis ini, maka setiap orang beriman wajib memperbarui imannya, agar ketika iman itu berada di titik kulminasi terendah, ia tidak terus berkurang sampai akhirnya menghilang.
Layaknya memperbarui bangunan, memperbarui iman juga bukan berarti membuang yang lama dan menggantinya dengan yang baru, melainkan memperbaiki yang sudah rusak dan menambah yang sudah hilang, sehingga menjadi baru kembali.Cara paling efektif memperbarui iman adalah dengan thalabul ilmi. Dengan mencari ilmu, keimanan bisa terus bertambah, ilmu apa pun itu. Karena Islam tidak mengenal dikotomi ilmu (ilmu agama dan ilmu nonagama). Itulah mengapa mencari ilmu diwajibkan dalam Islam, karena dengan ilmu, iman seseorang bisa bertambah dan terjaga kestabilannya.
Semua ilmu pada titik ujungnya akan mengarah pada kemahakuasaan Allah SWT, kemahaperkasaan Allah SWT, kemahabijaksanaan-Nya, dan sifat-sifat maha lainnya yang Allah SWT miliki. Jika demikian, semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semakin besar pula rasa takut kepada Allah SWT.Namun, dari sekian banyaknya ilmu, ada ilmu yang paling utama di sisi Allah SWT, karena ilmu itu langsung menceritakan tentang Allah SWT, tentang malaikat-Nya, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hukum-Nya, dan hal lain yang berkaitan dengan-Nya.
Bahkan, ilmu tersebut merupakan firman-Nya sendiri, perkataan-Nya, dan ucapan-Nya. Ilmu itu tiada lain adalah Alquran. Karenanya, Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.'' (HR Al-Bukhari). Banyak cara untuk mencari 'ilmu Alquran', apalagi di zaman modern ini teknologi komunikasi sudah semakin canggih. Bisa dengan cara membaca buku, internet, mendengarkan radio, menonton televisi, dan lainnya.
Akan tetapi, di antara cara-cara itu, ada satu yang sangat dicintai Allah SWT, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW. ''Setiap kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) membaca kitab Allah (Alquran) dan mempelajarinya, pasti akan turun kepada mereka ketenangan, dan dikelilingi oleh para malaikat yang menyebut-nyebut mereka di sisi Allah.'' (HR Muslim).
Dengan demikian, cara mencari ilmu Alquran yang paling utama dan paling dicintai Allah SWT adalah dengan bersama-sama di dalam masjid melalui pengajian. Karenanya, menghadiri pengajian di masjid lebih utama, meski cara lainnya juga sama-sama menghasilkan ilmu dan pengetahuan untuk memperbarui keimanan.
Baca selanjutnya...
Senin, 01 Juni 2009
Berani Memaafkan
Oleh Yodi Indrayadi
Abu Abdillah al-Jadali berkata, ''Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah. Ia menjawab bahwa beliau tidak pernah bicara dan berlaku kotor. Beliau tidak pernah mengangkat suara, sekalipun itu di pasar. Beliau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Beliau pemaaf dan lapang dada.'' (HR Tirmidzi dan Ahmad).
Memaafkan adalah pilihan yang cukup sulit untuk dilakukan, terutama bila berkenaan dengan kesalahan yang sangat berat dan menorehkan luka yang dalam di hati.
Padahal, tidak sedikit dalil, baik itu yang disebutkan dalam Alquran maupun yang dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW, yang menganjurkan sikap memaafkan orang lain.
Alquran menyebutkan bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia. ''Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.'' (QS Asysyuura [42]: 43).
Saat bersama para sahabatnya, Rasulullah pernah bersabda, ''Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan dan meninggikan derajatmu?'' Para sahabat menjawab, ''Tentu, wahai Rasulullah.'' Rasulullah lalu bersabda, ''Bersabar terhadap orang yang membencimu, memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menyambung silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu.'' (HR Thabrani).
Bahkan, Allah berjanji akan melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada orang yang memaafkan orang lain. Allah berfirman, ''Dan, jika kamu maafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.'' (QS Attaghaabun [64]: 14).
Pada ayat lain, Allah menjelaskan bahwa orang yang memaafkan termasuk orang-orang yang mendapat surga seluas langit dan bumi. Allah berfirman, ''Dan, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.'' (QS Ali Imran [3]: 133-134).
Dan, memang, memaafkan membutuhkan keberanian dan kekuatan mental yang tidak kecil. Alih-alih terhadap orang yang bersedia memaafkan, terhadap orang yang menahan marah saja, Rasulullah sudah menyebutnya sebagai orang yang pemberani. Rasulullah bersabda, ''Bukan dikatakan pemberani, orang yang cepat marah. Seorang pemberani adalah yang dapat menguasai dirinya sewaktu marah.'' (HR Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, memaafkan bukanlah sikap lemah atau kalah. Memaafkan adalah sikap mulia dan ksatria. Bahkan, memaafkan adalah salah satu sifat Tuhan yang perlu kita imani dengan cara meneladaninya. Allah berfirman, ''Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.'' (QS Annisa [4]:149).
Baca selanjutnya...